@Website SIMABUA INFO/ www.simabuainfo.com adalah portal resmi Organisasi adat dari sumatera barat yang di kelolah dan dirawat juga oleh Barto Silitonga, (foto: istimewa)
JAKARTA – Barto Silitonga, Kepala Media Center Majelis Adat Indonesia (MAI), menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para Raja, Sultan, Datuk, Ratu, serta Pangeran se-Nusantara atas kepedulian, kebijaksanaan, dan keterpanggilan nurani dalam merespons kondisi budaya, adat, serta realitas sosial masyarakat adat di seluruh penjuru Nusantara.
Menurut Barto, Titah Diraja yang lahir dari para pemangku daulat Nusantara bukan sekadar seruan simbolik, melainkan merupakan panggilan moral yang bersumber dari amanah leluhur dan nilai Ilahi Raja, yang menempatkan raja sebagai penjaga keseimbangan antara manusia, adat, dan Sang Pencipta. Titah tersebut menjadi suluh bagi kebangkitan kembali marwah adat, yang dalam beberapa dekade terakhir mengalami tantangan serius akibat arus modernisasi, komersialisasi budaya, dan pelemahan nilai kearifan lokal.
“Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, para Raja dan pemangku adat Nusantara telah menunjukkan bahwa adat bukan peninggalan masa lalu, melainkan fondasi masa depan bangsa. Titah yang disampaikan hari ini adalah bukti bahwa daulat adat masih hidup, berdenyut, dan hadir sebagai penuntun moral bagi generasi,” ungkap Barto Silitonga.
Lebih lanjut, Barto menegaskan bahwa Media Center MAI hadir sebagai perpanjangan suara dari titah-titah luhur tersebut, untuk memastikan bahwa pesan adat, nilai budaya, dan seruan pemersatu bangsa dapat tersampaikan secara luas, jernih, dan bertanggung jawab kepada seluruh lapisan masyarakat. Media Center bukan semata bagian dari struktur organisasi, melainkan instrumen peradaban dalam menjaga kesinambungan nilai warisan leluhur.
Ia juga menekankan bahwa kepedulian para Raja Nusantara terhadap kondisi sosial masyarakat adat hari ini adalah cerminan dari Ilahi Raja itu sendiri, yakni kepemimpinan yang berlandaskan kasih kepada rakyat, keberpihakan kepada yang terpinggirkan, serta tanggung jawab suci untuk menjaga keseimbangan alam, manusia, dan budaya.

“Majelis Adat Indonesia berdiri bukan untuk menggantikan negara, tetapi untuk memperkuat jati diri bangsa melalui adat, etika, dan kebudayaan. Dan titah para Raja Nusantara adalah cahaya yang menuntun jalan pengabdian itu,” tutup Barto Silitonga.












