Site icon SIMABUA INFO

Mahkota Emas Kerajaan Kutai Kertanegara dan Upaya Pembakuan Pakaian Kutai ke Pentas Nasional & Internasional

Kerajaan Kutai dan Jejak Budaya Nusantara: “Mahkota Emas, Musik Kenongan, hingga Pembakuan Pakaian Adat” (istimewa)

JAKARTA, SIMABUA || INFO— Mahkota emas Kerajaan Kutai Kertanegara kembali menjadi perhatian publik setelah dibicarakan dalam forum komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI). Mahkota ini, yang dikenal dengan nama Ketopong Kutai, merupakan salah satu koleksi paling berharga di Museum Nasional Indonesia.

Dibuat pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1845–1899), mahkota tersebut memerlukan hampir dua kilogram emas murni serta dihiasi batu permata bernilai tinggi. Keindahannya memadukan keagungan artistik Nusantara dengan pengaruh budaya Jawa, sebab pembuatannya melibatkan penatah emas dari Semarang, Jawa Tengah, yang diberi gelar Demong Karno.

Mahkota Kutai Kertanegara berbentuk Brunjungan dengan gaya Kresna dan Garuda Mungkur, melambangkan kewibawaan raja dan kejayaan kerajaan. Kehadirannya tidak hanya menjadi simbol adat dan kekuasaan, tetapi juga bukti akulturasi budaya antara Kalimantan dan Jawa, termasuk dengan masuknya gamelan dan seni pertunjukan ke dalam tradisi Kutai.

“Sejarah mencatat bahwa pengaruh Jawa sangat kuat dalam keraton Kutai Kartanegara, mulai dari musik kenongan, tari topeng, hingga ragam busana. Bahkan, tercatat 39 model pakaian Kutai yang menunjukkan perpaduan budaya Tionghoa, Jawa, Sakai, hingga Jepang,” ujar Duli Yang Maha Mulia Sri Paduka Baginda Berdaulat Agung Maharaja Kutai Mulawarman, Prof. Dr. M.S.P.A. Iansyah Rechza, FW., Ph.D. (1/10/2025)

Pakaian Kutai Menuju Pembakuan Nasional

Dalam forum MAI, Prof. Iansyah Rechza juga menegaskan bahwa saat ini tengah diupayakan pembakuan pakaian Kutai secara nasional. Langkah ini dinilai penting agar warisan budaya Kutai tidak hanya dikenal di Kalimantan, tetapi juga mendapat tempat di kancah internasional.

“Pakaian pengantin Kutai pada masa lalu tidak terlalu lengkap, namun melalui kajian adat dan prosedur yang tepat, kini kami sedang mengusulkan pembakuan pakaian Kutai agar bisa diperkenalkan ke tingkat nasional bahkan internasional,” tegasnya.

Menambahkan pandangan tersebut, M. Rafik Datuk Rajo Kuaso, Kepala Pasukuan, menekankan bahwa Kutai memiliki posisi istimewa dalam sejarah Nusantara:

“Kutai adalah salah satu kerajaan Hindu tertua yang lahir di Nusantara, kemudian pada era Singosari berkembang menjadi Kutai Kertanegara. Keduanya Kutai Lama dan Kutai Kertanegara mempunyai hubungan kekerabatan dengan Pagaruyung, Malayapura, dan Sriwijaya. Kutai Lama merupakan saudara tua karena sama-sama berasal dari wangsa Warman, sedangkan Kutai Kertanegara memiliki garis kekerabatan dengan Pagaruyung melalui jalur Singosari.”

Majelis Adat Indonesia menilai, pengenalan kembali mahkota dan pakaian adat Kutai Kertanegara merupakan bagian dari upaya menjaga keberagaman budaya Nusantara, sekaligus memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
(Red/Media Center MAI)
(Redaksi/Media Center.MAI)

Exit mobile version