Warisan Peradaban Sulit Air Terancam: Suara Datuk Kepala Pasukan M. Rafiq Datuk Raja Kuaso Wilayah Nagari Sulit Air

SIMABUAINFO – Di tengah gemuruh pembangunan dan modernisasi, suara adat dan kearifan lokal kian tenggelam. Suara yang seharusnya menjadi penuntun moral bangsa kini nyaris tak terdengar. Hal ini disuarakan dengan getir oleh Yangmulia (Ym).M. Rafiq Datuk Raja Kuaso Tokoh adat dan Datuk Kepala Pasukan dari Wilayah Nagari yang sulit mendapatkan Air, sebuah nagari bersejarah di Kab. Solok, Sumatera Barat.

Nagari Sulit Air bukan sekadar kampung halaman, ia adalah pusat peradaban, tempat di mana pemerintahan tradisional, ekonomi lokal, agama, pendidikan, dan kebudayaan Minangkabau tumbuh berdampingan. Namun kini, nagari ini menghadapi ancaman besar: keterasingan dari proses kebangsaan dan ketidakjelasan pengakuan terhadap peran adat dalam struktur negara.

“Kita tidak hanya kehilangan tanah, tapi juga kehilangan jati diri. Ketika adat hanya jadi tontonan budaya, dan bukan lagi rujukan moral, di situlah bangsa mulai rapuh,” ujar Datuk Rafiq dengan nada prihatin.

Jejak Sejarah yang Dilupakan

Nagari ini memiliki akar yang dalam. Didirikan oleh Datuk Malakewi (Datuk Mula Nan Kewi), awalnya bernama Nagari Saleh sebuah nama penuh makna, melambangkan kebaikan dan kemakmuran. Namun, Belanda menggantinya menjadi Sulit Air, nama yang bertahan hingga kini demi keperluan administratif kolonial.

Sulit Air memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa:

Gunung Merah Putih simbol alam yang unik dengan warna mencerminkan bendera Indonesia.

Janjang Saribu, ribuan anak tangga menuju puncak, menjadi saksi ketangguhan masyarakatnya.

Rumah Gadang 20 kamar rumah adat terpanjang, menjadi lambang keluhuran tata sosial Minangkabau.

Titi Bagonjong jembatan tradisional dengan atap bergonjong, menyeberangi Sungai Katialo.

SAS: Kekuatan Diaspora Nagari

Warga Sulit Air di perantauan tak kalah hebat. Mereka berhimpun dalam organisasi Sulit Air Sepakat (SAS) yang berdiri sejak 1972. Dengan lebih dari 80 cabang di Indonesia dan luar negeri (termasuk Australia, Singapura, dan AS), SAS adalah contoh kekuatan diaspora budaya yang terorganisasi dengan baik.

Namun ironi terjadi: kekuatan sosial dan ekonomi ini belum sejalan dengan pengaruh kultural dan politik yang setara di ranah kebangsaan.

Seruan Solusi: Bangun Majelis Adat Indonesia

Melihat kondisi bangsa yang rawan arah dan kehilangan akar, Datuk Rafiq menyerukan pentingnya pembentukan lembaga adat nasional sebuah Majelis Adat Indonesia (MAI) yang menjadi penyeimbang moral negara. Bukan sekadar simbol, tapi lembaga nyata yang memiliki fungsi:
•Menjembatani konflik tanah ulayat dan adat.
•Menjadi rujukan etik dalam kebijakan publik.
•Menghidupkan kembali peran adat sebagai sistem nilai hidup.
•Menjadi penopang keutuhan bangsa dari desa dan nagari.

“Negara bisa kuat, tapi kalau jiwanya kosong, itu hanya menunda keruntuhan. Adat adalah roh bangsa. Saatnya adat didudukkan sejajar dengan institusi-institusi besar lainnya.”

Nagari Sulit Air adalah cermin dari banyak nagari lain di Nusantara. Ketika satu nagari kehilangan haknya, maka satu batu fondasi bangsa ikut goyah. Seruan dari Datuk Rafiq adalah panggilan untuk bangkit: menjadikan adat bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai arah masa depan.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *