Site icon SIMABUA INFO

Pesan Moral Sekjen Majelis Adat Indonesia (MAI)


Paduka Yangmulia M. Rafik Datuak Rajo Kuaso, Kepala Pasukuan Minangkabau Sumatera Barat

Disampaikan dalam Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia, Jumat (24 Oktober 2025)


SIMABUA || INFO — Sehari setelah terselenggaranya Sidang Agung Majelis Adat Indonesia bertema “Pakarti Budaya Bangsa Nusantara”, yang dirangkaikan dengan Malam Karunia Kasih Maharaja Kutai Mulawarman di Surabaya, Jawa Timur, suasana kebatinan para tokoh adat se-Nusantara masih terasa khidmat dan penuh makna.

Acara sakral yang dipimpin langsung oleh Duli Yang Maha Mulia Sri Paduka Baginda Berdaulat Agung Prof. Dr. M.S.P.A. Iansyah Rechza F.W., Ph.D., Maharaja Kutai Mulawarman, menjadi momentum penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara karena dari sanalah lahir Titah Diraja Nusantara tentang pendirian Majelis Adat Indonesia (MAI), lembaga yang berfungsi sebagai penjaga etik, moral, dan marwah budaya bangsa.

Dalam sidang agung tersebut, Paduka Yangmulia M. Rafik Datuak Rajo Kuaso Cumati Koto Piliang Langgam Nan 7, Kerajaan Pagaruyung Nusa, Sumatera Barat, diamanatkan sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Adat Indonesia (MAI).
Amanah itu diterima dengan rendah hati dan dijawab dengan pesan moral yang menyentuh nurani adat bangsa.


Untaian Pesan Moral Yangmulia M.Rafik Datuak Rajo Kuaso

“Mari kita kesampingkan ego, kepentingan pribadi, dan kelompok.
Orang adat itu pasti beradab, bermoral, dan berakhlak baik.
Kita bersatu demi kebangkitan sang pemilik asli Indonesia masyarakat adat yang menjadi komisaris utama Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Beliau menegaskan bahwa kekuatan bangsa Indonesia berakar dari masyarakat adat. Dalam pandangan beliau, semua elemen bangsa sejatinya adalah bagian dari keluarga besar adat Nusantara mulai dari para Raja, Sultan, Datuk, Kepala Suku, hingga Bunda Pertiwi para Ibu Adat, Pemuda Parik Paga Nagari, pemerhati adat, cendekiawan adat (cadiak pandai), alim ulama, serta Tuan Qadi.

“Masyarakat adat itu luas. Semua kita adalah masyarakat adat.
Bila kekuatan ini bersatu, maka tegaklah kejayaan bangsa Indonesia ke depan,”
ujar Sekjen MAI, penuh semangat kebangsaan.


Refleksi Spiritual dan Sejarah

Dalam forum komunikasi MAI tersebut, Datuak Rajo Kuaso juga menyampaikan penghormatan kepada Yang Mulia Kanda A.A. Ngr Putra Narayana, sembari menyinggung makna historis di balik tempat terselenggaranya sidang agung tersebut di Jawa Timur.

“Tidak salah bila Musyawarah Agung Para Raja Diraja dilaksanakan di Jawa Timur, tanah kelahiran Majapahit.
Saya merasakan nuansa yang sama seperti leluhur kita, Adityawarman, ketika diangkat menjadi Maha Menteri Majapahit bersama Sabda Palon.”

Ujaran ini disambut hangat oleh YM A.A. Ngr Putra Narayana yang mengamini bahwa dari tanah Majapahit inilah dahulu leluhur Adityawarman memulai perjalanan panjangnya ke Bali dan kembali ke Dharmasraya, menjadi Maharaja Diraja yang mempersatukan adat dan marwah bangsa.

“Bravo untuk YM Sri Paduka Maharaja Kutai Mulawarman, yang telah memimpin kebangkitan marwah budaya diraja Nusantara,” tambah Datuak Rajo Kuaso dalam apresiasinya.


Kebangkitan Marwah Budaya Diraja Telah Dimulai

Para Raja, Sultan, Datuk, Ratu, dan Tokoh Adat se-Nusantara turut menyampaikan apresiasi atas amanat yang diberikan kepada M. Rafik Datuak Rajo Kuaso. Mereka menilai pengangkatan ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada tokoh adat Minangkabau, tetapi juga simbol persatuan dan kebangkitan nilai-nilai luhur Nusantara.

“Selamat dan sukses buat M. Rafik Datuak Rajo Kuaso yang telah diamanatkan sebagai Sekjen MAI.
Semoga amanah ini menjadi jalan pengabdian bagi kejayaan adat dan bangsa.”

Dengan lahirnya Majelis Adat Indonesia dan terbentuknya struktur kepengurusan yang inklusif, disepakati bersama bahwa adat bukanlah simbol masa lalu, melainkan panduan moral untuk masa depan bangsa.


Demikianlah pesan moral yang disampaikan oleh Paduka Yangmulia M. Rafik Datuak Rajo Kuaso, Sekretaris Jenderal MAI dan Kepala Pasukuan Minangkabau Sumatera Barat.


Untaian kata beliau menjadi penegasan bahwa kebangkitan budaya diraja Nusantara telah dimulai, dan masyarakat adat akan menjadi pilar utama dalam menegakkan martabat bangsa Indonesia di mata dunia.


Exit mobile version