foto: Istimewa
SIMABUA || INFO —Dalam salah satu diskusi internal Majelis Adat Indonesia (MAI), Dato’ Rajo Kuaso M. Rafik, Kepala Pasukuan (Minangkabau) sekaligus pengamat politik, sosial, dan budaya, membagikan sebuah tulisan reflektif dari Arcandra Tahar yang menyoroti dinamika global seputar logam tanah jarang (Rare Earth Elements) dan implikasinya terhadap kebijakan strategis bangsa.
Tulisan bertajuk “Belajar Logam Tanah Jarang (Rare Earth Element) di China” itu menyoroti eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali memanas pada Oktober 2025. Arcandra menulis bahwa setiap kali ketegangan ekonomi dua kekuatan besar dunia itu meningkat, dampaknya tak hanya dirasakan kedua negara, tetapi juga mengguncang rantai pasok global termasuk negara-negara berkembang yang kaya sumber daya alam seperti Indonesia.
Beijing, menurut informasi yang dikutip, baru-baru ini mengambil langkah membatasi ekspor critical minerals ke AS, sebuah kebijakan strategis yang mengingatkan dunia akan pentingnya kedaulatan dan kontrol terhadap sumber daya alam strategis.
Dalam konteks ini, Dato’ Rajo Kuaso menilai tulisan Arcandra Tahar sebagai “cermin penting bagi bangsa Indonesia” untuk belajar dari kebijakan negara lain, khususnya dalam hal pengelolaan mineral strategis yang menjadi fondasi masa depan industri teknologi dan energi hijau.
“Kita mesti mulai memandang sumber daya alam bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi sebagai modal budaya dan peradaban bangsa,” ujar Dato’ Rajo Kuaso dalam refleksinya. “Tulisan seperti ini seharusnya menginspirasi para pemangku kebijakan agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton dalam geopolitik sumber daya dunia.”
Sebagai pendiri sekaligus inisiator Majelis Adat Indonesia (MAI), Dato’ Rajo Kuaso menekankan bahwa wawasan kemandirian sumber daya harus berakar pada nilai adat dan kearifan lokal. Baginya, pembangunan ekonomi sejati harus berjalan seiring dengan etika budaya dan tanggung jawab terhadap bumi yang diwariskan oleh leluhur.
Tentang Majelis Adat Indonesia (MAI):
Majelis Adat Indonesia merupakan wadah nasional yang berperan sebagai entitas etik, kultural, dan penyeimbang moral bangsa. MAI menghimpun tokoh-tokoh adat, pemuka budaya, dan cendekiawan Nusantara untuk memperkuat nilai-nilai adat dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.






