penulis: Barto Silitonga
SIMABUA || I N F O — Yangmulia(YM) Datu M. Rafiq Datuk Raja Kuaso, pengamat politik, sosial, dan budaya sekaligus Datuk Kepala Pasukuan serta inisiator Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI), menyampaikan pernyataan penting dalam forum komunikasi MAI yang digelar hari ini.
Beliau mengingatkan bahwa sejak masa lalu, raja, sultan, maupun kepala suku adalah pemimpin rakyat yang berani, piawai, dan cerdas dalam berpolitik. Kepiawaian itu yang membuat masyarakat adat mampu menjaga kedaulatan, mengatur kehidupan sosial, dan menegakkan keadilan di tengah bangsanya.
“Masyarakat adat hari ini pun harus belajar dari sejarah. Untuk mencapai tujuan yang lebih besar, kita perlu cerdas dan piawai dalam berpolitik, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai aktor yang menentukan arah masa depan bangsa,” ujar Yangmulia Datu M. Rafiq Datuk Raja Kuaso.
Beliau menegaskan bahwa Majelis Adat Indonesia (MAI) merupakan wadah berhimpun masyarakat adat di seluruh Nusantara untuk mewujudkan cita-cita tersebut. MAI diproyeksikan bukan hanya sebagai forum adat, tetapi sebagai entitas etik, kultural, sekaligus penyeimbang moral bangsa.
“Jika negara memiliki DPR sebagai representasi politik, maka masyarakat adat memiliki MAI sebagai Dewan Etik Bangsa. Kehadiran MAI diharapkan dapat menjaga nilai luhur, memperkuat identitas, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial,” tambah beliau.
Majelis Adat Indonesia adalah gagasan yang lahir dari kesadaran kolektif masyarakat adat untuk memiliki ruang bersama dalam memperjuangkan kepentingan adat, budaya, dan masa depan bangsa. MAI hadir sebagai forum persatuan adat Nusantara yang bertujuan untuk:
- Menyatukan suara masyarakat adat dalam menghadapi tantangan global.
- Menjadi penyeimbang moral dan etik dalam perjalanan bangsa.
- Menjaga warisan budaya, spiritual, dan lingkungan hidup.
- Menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah dan lembaga negara.
Dengan semangat keberanian dan kecerdasan yang diwarisi dari leluhur Nusantara, MAI diharapkan dapat menjelma sebagai pilar moral bangsa, penghubung antaradat, dan pelindung nilai-nilai luhur Indonesia menuju masa depan yang berkeadilan dan berdaulat.
(MAI//Red)






