SIMABUA || INFO– Dalam semangat menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa, M. Rafik Datuk Rajo Kuaso Datuk Kepala Pasukuan dan inisiator pendiri portal informasi daring Pasukuan Simabua—Minangkabau kembali menyuarakan pentingnya membangun kehidupan yang berpijak pada nilai positif, kebijaksanaan, dan keluhuran adat.
“Masa depan memang tak selalu menjanjikan keindahan seperti yang kita harapkan. Tapi selama kita menjaga hati dari prasangka buruk, membersihkan pikiran dari kekacauan, dan terus menanamkan niat baik, hidup akan senantiasa membentuk kita menjadi pribadi yang matang,” tulis Datuk Rajo Kuaso dalam satu kesempatan reflektifnya di akun media sosial miliknya, (5/08/2025).
Wejangan ini, menurutnya, adalah cerminan dari prinsip hidup orang Minang:
“Hidup bukanlah untuk menangisi yang belum tentu datang, tapi untuk mensyukuri dan memaknai yang sedang dijalani.”
Ia mengajak masyarakat Minangkabau, khususnya generasi muda, untuk tidak menjadi tawanan pemikiran negatif orang lain. Baginya, upaya menjadi baik harus dimulai dari memperbaiki diri sendiri, bukan dengan menjatuhkan atau membandingkan diri dengan orang lain.
“Jangan jadikan hidup sebagai arena adu citra. Menjelekkan orang lain tak akan membuat kita terlihat lebih baik. Ingatlah, indak ado urang nan salalai manang, salalah manangnyo urang tu bejago. (Tak ada orang yang selalu menang, kalah pun bisa jadi pembelajaran bagi yang bijak),” pesannya.
Dalam kapasitasnya sebagai pengamat sosial, politik, dan budaya, Datuk Rajo Kuaso juga tengah menggagas berdirinya Majelis Adat Indonesia (MAI) sebuah lembaga kultural-etis yang bertujuan menjadi penyeimbang moral bangsa. MAI diharapkan mampu merawat nilai-nilai luhur Nusantara dan menjadi ruang konsultatif berbagai unsur adat untuk mengawal arah bangsa.
“Majelis Adat Indonesia bukan hanya tentang adat, tapi tentang arah: arah moral, arah batin, dan arah budi pekerti bangsa,” tegasnya.
M. Rafik Datuk Rajo Kuaso percaya bahwa membangun bangsa tidak bisa hanya melalui pembangunan fisik dan ekonomi. Ada yang lebih mendasar: pembangunan karakter, budi, dan akal sehat kolektif. Itulah misi yang hendak dibawanya melalui MAI, lembaga yang akan berdiri di atas nilai-nilai universal namun berakar kuat pada kearifan lokal.
“Sakato dalam adat, basamo dalam mufakat, bajalan dalam hikmah.”
SIMABUA INFO






